15 Mei 2013

Apa Saja "Mitos di Korea Selatan ?"

Mitos 1: Sulit komunikasi dengan bahasa Inggris

Di Korea Selatan, memang hampir sebagian besar nama toko / gedung ditulis dalam huruf Hangul. Hanya satu dua saja yang memakai tulisan berbahasa Inggris. Tapi jangan panik…, ini cuma toko/gedung saja. Untuk petunjuk jalan dan informasi lainnya seperti peta / info transportasi, banyak yang disediakan dalam bahasa bilingual (Inggris dan Korea). Ingat: bawalah selalu peta Korea Selatan dan peta subway agar kita tahu lokasi yang dituju. Kalau masih tersesat, datang saja ke pusat informasi turis yang banyak tersebar di penjuru tempat. Mereka dengan senang hati akan membantu Anda mencarikan informasinya. Masih tersesat juga? Tanya saja ke orang di sekitar, kalau yang ditanya tak bisa cakap Inggris, maka bahasa tarsan akan berperan penting hihihiii..


Kalau mau berbelanja, beberapa penjual ada yang bisa menyebut harga dalam bahasa Inggris, namun kalaupun ada yang tidak bisa, mereka akan menjawabnya lewat kalkulator. Cukup hafalkan beberapa bahasa saja seperti Ahnnyeong haseyo (halo), Kamsa Hamnida(terima kasih).

Mitos 2: Sulit mencari makanan halal

Ah… siapa bilang sulit menemukan makanan halal di Korea? Datanglah ke Itaewon jika ingin mencari makanan halal. Itaewon adalah sebuah permukinan yang terletak di area Yongsan-gu, Seoul. Di sini kita bisa menemukan beragam macam masakan / makanan dari seluruh dunia salah satunya India, Timur Tengah, Thailand. Di kawasan ini juga terdapat Seoul Central Mosque, mesjid terbesar di Seoul yang dibangun pada tahun 1976. Mesjid ini banyak dikunjungi berbagai warga dari berbagai negara yang tinggal di sekitar Seoul. Di Myeng-dong saya juga pernah lihat ada Kebab. Makanan halal juga bisa dijumpai di minimarket atau food court. Jadi jangan takut kesulitan mencari makanan halal.. – Mitos 3: Serba mahal?

Kalau urusan belanja fashion, saya angkat tangan deh….  Saya kurang begitu paham seluk beluk fashion karena saya bukan shopaholic (pecinta belanja). Jadi saya tidak bisa membuatstatement bahwa belanja di Korea itu murah / mahal. Di Thailand, menurut saya juga murah. Namun yang pasti, di Korea Selatan harganya cukup terjangkau dan masih jauh lebih murah dibanding Jepang. Rata-rata penjual disini memasang harga fixed. Kalau kebetulan lagi hoki, kita bisa saja mendapat potongan harga. Coba saja tawar baik-baik…

Waktu saya ke sana, di Seoul lagi musim dingin. Jadi lagi banyak yang menjual pakaian dingin, jaket, sepatu boots, topi. Harga sepatu di kios-kios kecil mulai 10.000 won (Rp 80ribuan), kaos 5.000 won (Rp 40ribuan). Nah, kalau ingin belanja grosiran, datanglah ke Dongdaemun. Tempat ini terkenal dengan pusat belanja grosir dengan harga murah. Kualitas bahannya juga lebih bagus dibanding produksi China.

Untuk makan, rata-rata makan di pinggir jalan harganya mulai dari 4.000 won (Rp 32ribu) ke atas, tergantung kawasan dimana kita makan. Kalau makan di resto pastinya lebih mahal, mulai 10.000 won ke atas. Kalau mau makan murah, beli saja makanan di minimarket. Di sana selalu ada paket makanan dengan menu daging sapi / ayam, sushi atau roti sandwich. Harganya lebih murah dibanding makan di luar.

Transportasi di sana juga terbilang cukup terjangkau. Demikian pula dengan penginapan, ada banyak hostel dengan harga murah di sana. Khusus untuk transportasi dan penginapan, akan saya ulas di postingan berikutnya.

Mitos 4: Tidak ramah

Katanya, orang Korea itu tidak ramah… sama seperti ketika kita datang ke Jepang lalu mau bertanya ke orang lokal, pasti banyak yang kabur. Mereka menghindar agar tidak ditanya karena tidak bisa berbahasa Inggris. Ditambah lagi, di film-film drama Korea sering ada adegan kasar / galak. Mitos ini salah besar.

Orang-orang Korea ternyata sangat ramah, hormat, dan peka dengan pengunjung. Saat saya tersesat lalu bertanya ke salah satu orang lokal, mereka mau lho membantu saya walaupun gak bisa berbahasa Inggris. Saya pernah dibantu seorang pemuda ketika saya tak berhasil menemukan hostel yang saya cari (karena tulisan gedungnya pakai Hangul semua). Dia membantu saya mencarikan informasi lokasinya di peta lewat ponsel, lalu menunjukkan areanya (walau bukan hostelnya). Beberapa kali saya sengaja bertanya untuk memastikan apakah saya tidak salah tempat, maksudnya agar tidak kejauhan jalan kakinya heheee.. Intinya mereka dengan senang hati akan membantu walau kesulitan bicara bahasa Inggris.

0 komentar:

Posting Komentar