Tampilkan postingan dengan label Buddhist. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Buddhist. Tampilkan semua postingan

18 Jan 2015

Pandangan Buddhis Mengenai Khitanan (Sunat)


Pandangan Buddhisme

Para cendekia-cendekia dunia yang telah mendalami ajaran Buddha akan menjawab pertanyaan diatas dengan jawaban yang mungkin sangat berbeda satu dengan yang lain. Jawaban yang sederhana adalah ajaran Buddha terlalu luas dan terlalu dalam untuk ditempatkan dalam satu kategori, karena ajaran Buddha meliputi: Filsafat, agama, kosmologi, alam dan jalan hidup.
Apabila kategori atau label diberikan kepada ajaran Buddha yang luas cakupannya, toh tidak akan mengantar ke kebagaiaan sejati. Ajaran Buddha adalah pendekatan intelektual terhadap kenyataan alam semesta, oleh karena itu ajaran Buddha bukan berasal dari langit turun kebumi, tetapi sebaliknya dari bumi menuju langit. Penyadaran Sang Buddha akan masalah universal tidak datang melalui proses intelektual dan rasional saja, tetapi melalui pengembangan dan pemurnian spiritual. Sang Buddha memulai dengan ajaran-Nya tidak dengan kepercayaan dogmatis atau misterius, tetapi dengan pengalaman yang ia berikan kepada dunia sebagai kebenaran universal.
Ajaran Sang Buddha adalah praktis, rasional dan menawarkan pandangan yang realistis tentang kehidupan dan dunia. Ajaran Sang Buddha tidak memikat orang untuk hidup dalam surga ataupun neraka dengan menakut-nakuti dan membuat orang menderita dengan segala jenis khayalan kenikmatan maupun ketakutan dan perasaan bermasalah tiada henti. Ajaran Buddha tidak menciptakan kefanatikan agama untuk menjerumuskan murid dan mengusik penganut agama lain. Ajaran Buddha memberi tahu dunia secara tepat dan objektif “apakah dan siapakah diri kita itu, apakah dunia disekitar kita itu dan menunjukkan kita jalan menuju kebebasan, kedamaian, ketenangan dan kebahagiaan sejati.” Pandangan umat Buddha tentang khitan mirip dengan pandangan terhadap perkawinan, dalam ajaran Buddha perkawinan dianggap urusan individual karena berasal dari budaya warisan masa lalu.
Khitan bukan sesuatu yang diwajibkan ataupun dilarang dalam ajaran Buddha, oleh karena itu sikap kita hendaknya menggunakan acuan bahwa ajaran Buddha adalah ajaran praktis, rasional dan realistis dalam menyingkapi budaya atau adat disekitar kita. Pilihan khitan atau tidak diserahkan masing-masing individu dengan pertimbangan ajaran Sang Buddha tentunya.

source: http://wwwyaindra.blogspot.com/2012/03/pandangan-buddhis-mengenai-khitanan.html

18 Okt 2014

Delapan Dewa / Ba Xian ?

Legenda Delapan Dewa mungkin berawal pada Dinasti Tang, dan cerita itu bervariasi pada setiap dinasti. Para karakternya, menurut versi setelah Dinasti Ming, adalah Han Zhongli, Zhang Guolao, Han Xiangzi, Tie Guali, Cao Guojiu, Lu Dongbin, Lan Caihe, dan He Xianggu. Dengan memiliki penampilan dan kepribadian yang sangat berbeda, Delapan orang ini merupakan Dewa yang hebat dalam ajaran Tao, dan mereka
sering berkumpul bersama.
Delapan Dewa tidak langsung dilahirkan abadi. Mereka berasal dari dunia manusia, seperti dari anggota keluarga kekaisaran, pengemis, pendeta Tao, dan lain-lain. Ada kisah yang yang sangat menarik di belakang mereka saat berhasil berlatih dan mencapai keabadian.
Cao Guojiu adalah saudara seorang Kaisar, Tie Guali berkaki pincang dan berjalan dengan sebuah tongkat, He Xiangu seorang perempuan muda dan sangat menarik, Zhang Guolao terlihat sangat sehat di usianya yang lanjut dan sering menunggang keledai dengan terbalik. Han Xiangzi, keponakan dari Han Yu, seorang penulis terkenal di zaman Dinasti Tang dan sangat senang bermain seruling, Han Zhongli selalu terlihat dengan kipas daun palem di tangannya.
Melalui berbagai perjalanan mereka, Delapan Dewa bertemu dengan berbagai orang dan situasi, banyak di antaranya tertulis menjadi sebuah cerita. Satu perumpamaan keterlibatan Lu Dongbin yang menghalangi usaha untuk menawarkan penyelamatan manusia.
Delapan Dewa terdiri dari laki-laki dan perempuan, muda dan tua, kaya dan berbudi luhur, serta miskin dan rendah hati. Klenteng dari Delapan Dewa tersebar di seluruh Tiongkok dan patungnya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari prosesi penyembahan. Senjata yang mereka bawa seperti lonceng, kayu keras, kipas, tongkat, seruling, pedang, botol labu, Tao dan keranjang bunga, ini semua disebut “delapan harta” dan simbol dari Delapan Dewa.
1. Li Te Guai
Li Tie Guai-(“Li dengan tongkat besi”). Tongkat besi yang dimilikinya, diberikan oleh Xi
Wang-mu saat dia disembuhkan kakinya. Xi Wang-mu juga mengajarinya mengultivasi diri menjadi Dewa. benda lain yang dibawa-Nya adalah labu yang berisi ramuan ajaib.
Li kadang-kadang digambarkan dengan temperamen tinggi dan keras kepala, tapi murah hati terhadap orang miskin, orang sakit dan yang membutuhkan. Dengan menggunakan obat khusus dari labu-Nya, dia dapat mengurangi penderitaan orang lain. Ia sering digambarkan sebagai seorang pria tua jelek dengan wajah kotor, jenggot kumal, dan rambut berantakan yang diikat dengan pita emas. Dia berjalan dengan bantuan sebuah tongkat besi dan sering memikul labu miliknya di bahu atau dipegang ditangan. Dia juga sering digambarkan sebagai tokoh lucu, turun ke bumi dalam bentuk seorang pengemis dan menggunakan kemampuannya untuk memperjuangkan nasib yang membutuhkan dan tertindas.
Ada sebuah cerita lain tentang bagaimana Li sampai memiliki kaki yang pincang. Dengan Turun dari langit, Lao-zi memulai mengajarkan ajaran-ajaran Tao kepada Li. Segera setelah Li mencapai keabadian, ia meninggalkan tubuhnya untuk melakukan perjalanan ke Gunung suci Huashan. Dia meminta salah seorang muridnya untuk menjaga tubuhnya dan memberikan tugas khusus kepada murid-Nya untuk membakar tubuhnya jika ia tidak kembali dalam waktu tujuh hari. Namun, pada hari keenam, murid-Nya
menerima pesan bahwa ibunya sedang sakit keras. Dia bingung apakah harus memenuhi kewajibannya sebagai seorang anak atau menjaga tubuh Li. Akhirnya murid itu memilih pulang menjenguk Ibunya tapi sebelum itu ia membakar tubuh Li. Pada hari ketujuh, Li kembali dan menemukan tubuhnya sudah terbakar menjadi abu. Dia terpaksa memasuki tubuh seorang pengemis yang telah meninggal yaitu seorang pria dengan kaki pincang, dan cacat. Li tidak ingin hidup dengan tubuh barunya tetapi Lao-zi memintanya untuk menerima nasibnya, dan memberi Li sebuah tongkat besi untuk membantu dia berjalan.
2. Zhang Guo Lao
“Zhang Guo Lao” adalah salah satu dari Delapan Dewa. Dia adalah tokoh nyata dalam sejarah, keberadaanya-Nya dimulai sekitar masa pertengahan atau akhir abad ketujuh sebelum Masehi, dan berakhir kira-kira pada masa pertengahan abad kedelapan. julukan The “Lao” ditambahkan di akhir namanya, kata ini memiliki arti “Tua”.
Zhang Guo Lao adalah paling eksentrik dari dewa lain, salah satunya dapat
dilihat dari gaya kung fu yang didedikasikan untuk dirinya. gaya ini meliputi
bergerak seperti memberikan tendangan sambil memutar badan atau tekukan sejauh bahu Anda menyentuh tanah. Dia dikenal cukup menghibur, sering membuat dirinya menghilang, minum dari bunga beracun, memetik burung-burung di langit, serta bunga menjadi layu hanya dengan menunjuk kearah mereka, saat berada dihadapan Kaisar.
Zhang Guolao punya kebiasaan unik, yaitu menunggang keledai putih secara terbalik, sehari berjalan bisa mancapai 10.000 Li. Tentu saja keledai itu juga merupakan keledai khayangan, yang bisa dilipat dan dimasukkan ke dalam tas saat ia sedang tak diperlukan tuannya.
Sangat sedikit yang tahu mengapa dia menunggang keledai secara terbalik. Dia menemukan bahwa dengan berjalan ke depan berarti mundur ke belakang, dia lalu menunggang secara terbalik.
3. Cao Guojiu
Cao Guojiu adalah Dewa terakhir dari Delapan Dewa. Dia ditampilkan dengan pakaian pejabat resmi dan butiran batu giok. Kadang-kadang ia terlihat memegang alat musik.
keajaiban butiran batu gioknya adalah dapat memurnikan lingkungan.
Cao Guojiu adalah paman dari seorang Kaisar pada zaman Dinasti Song, yaitu adik terkecil dari janda Ibu Suri Cao.
Adik Cao Guojiu, Cao Jingzhi adalah pengganggu, tapi tak ada yang berani
menuntut dia karena koneksi yang kuat, bahkan setelah dia membunuh
seseorang. Cao Guojiu begitu kewalahan oleh kelakuan adiknya, merasa sedih dan malu. Akhirnya ia mengundurkan diri kantornya dan kembali pulang.
Suatu hari Zhongli Quan dan Lu Dongbin bertemu dengannya dan menanyakan apa yang sedang dia lakukan. Dia menjawab bahwa dia sedang belajar Tao.
“Apakah itu dan dimanakah itu?”, mereka balik bertanya.
Pertama-tama dia menunjuk ke langit dan kemudian ke hatinya.
4. Zhongli Quan
Zhongli Quan adalah salah satu Dewa yang paling kuno dan menjadi pemimpin dari Delapan Dewa (Beberapa orang menganggap Lu Dongbin menjadi pemimpin). Ia juga dikenal sebagai Zhongli Han (Han Zhongli) karena dia lahir pada masa Dinasti Han.
Lahir di Yantai, Zhongli Quan pada masa hidupnya hanya pernah mengabdi pada masa Dinasti Han.
Menurut legenda, cahaya terang memenuhi ruangan saat dia dilahirkan. Setelah lahir, tujuh hari penuh dia terus-menerus menangis tanpa henti.
Zhongli Quan adalah seorang Jenderal dalam kerajaan pada masa Dinasti Han. Biasa digambarkan sebagai laki-laki gemuk bertelanjang perut dan membawa kipas bulu yang dapat mengendalikan lautan dan dapat menghidupkan orang mati.
Pada hari tuanya dia menjadi petapa dan mendalami ajaran Tao.
5. Han Xiang
Han Xiang atau Xiang Zi, adalah Salah satu dari Delapan Dewa.
Han Xiang lahir pada masa Dinasti Tang, dan memiliki nama kehormatan Qingfu.
Dia adalah kemenakan atau cucu dari Han Yu, seorang negarawan terkemuka di
Pengadilan Tang. Han Xiang belajar Taoisme di bawah bimbingan Lv Dongbin.
Pada suatu perjamuan dengan Han Yu, Han Xiang membujuk Han Yu untuk melepaskan hidupnya sebagai pejabat dan ikut belajar Tao bersama dia. Tapi Han Yu tetap pada pendiriannya dan sebaliknya mengatakan bahwa Han Xiang harus memberikan
hidupnya untuk Taoisme, bukan Konghucu, jadi Han Xiang menunjukkan
kemampuan Tao yang dia pelajari dengan menuangkan anggur kedalam cangkir demi cangkir dari labu miliknya tanpa berhenti.
Karena serulingnya dapat memberikan kehidupan, maka Han Xiang juga disebut pemain seruling pemberi perlindungan.
6. Lan Caihe
Dari kedelapan dewa, Lan Caihe adalah dewa yang paling sedikit memiliki informasi. Umur dan jenis kelaminya tidak di ketahui.
Lan biasanya digambarkan dalam pakaian yang tidak jelas, tetapi sering ditampilkan sebagai pemuda atau gadis membawa keranjang bunga yang terbuat dari bambu.
Diceritakan perilaku Lan sering aneh dan eksentrik. Beberapa sumber mengatakan gaun
Lan Caihe menggunakan gaun biru lusuh, dan dikenal sebagai dewa pelindung para pujangga. Dalam tradisi lain, Lan adalah penyanyi wanita dan memiliki lirik lagu yang dapat memprediksi kejadian masa depan secara akurat.
Dia terbang meninggalkan dunia dengan angsa langit atau burung bangau pergi ke langit. Diceritakan pernah suatu hari ketika berada di sebuah kedai, ia diduga bangun dan pergi ke kamar mandi. Tapi sebelum berangkat pergi dia melepaskan pakaiannya dan terbang dengan burung bangau atau angsa pergi ke langit.
7. He Xian Gu
He Xian Gu adalah satu-satunya dewa perempuan di antara Delapan Dewa.
Ada sumber yang mengatakan He Xian Gu berasal dari daerah Prefektur Yong (hari ini disebut Linglin County, Hunan) pada masa Dinasti Tang, atau dari keluarga kaya dan dermawan di daaerah Zengcheng, Guangdong.
Saat lahir He Xian Gu memiliki enam rambut panjang di kepalanya. Saat berusia
14 atau 15 tahun, seorang dewa muncul dalam mimpinya dan memberi petunjuk kepada dia untuk makan bubuk mika, agar tubuhnya bisa menjadi sangat ringan
dan abadi. Jadi, ia memakannya, dan juga bersumpah untuk tetap menjaga keperawananya.
Saat mendaki bukit dan menuruni lembah He Xian Gu dapat melintasinya dengan sangat cepat, rasanya melayang seperti makhluk bersayap. Setiap hari saat fajar dia pergi dan kembali di sore hari dengan membawa buah gunung yang dia kumpulkan untuk ibunya. Kemudian lambat laun dia menyerah mengambil makanan biasa. Ratu Wu mengirim utusan untuk memanggil dia datang ke istana, tetapi di jalan, ia menghilang.
Suatu hari pada periode Long Jing (sekitar 707 CE), He Xiangu terbang ke langit
di siang hari bolong, dan menjadi Dewa Tao.
8. Lu Dong Bin
Lu Dongbin pernah dalam satu kali berjanji pada Han Zhongli untuk menyelamatkan semua makhluk hidup. Namun dia belum juga menyelamatkan satu orang pun, kemudian dia melakukan sebuah perjalanan menuju daerah Yue Yang. Dia berada di sana dua tiga kali sebelum mencoba untuk mencapai masyarakat umum. Yue Yang sekarang adalah sebuah wilayah administrasi di Provinsi Hunan, Tiongkok, di tepi danau Dong Ting.
Lu Dongbin menyamar menjadi seorang lelaki tua yang menjual minyak untuk memasak. Dengan cara menjual minyak sebagai dalih untuk bertemu dan memilih orang yang diprospeknya, lalu bila seorang pelanggan terlihat tidak tamak, tidak meminta lebih banyak minyak daripada yang dibayarnya, maka dia akan menolongnya.
Jadi, selama bertahun-tahun dia berkeliling untuk menjual minyak, selama itu para pelanggan yang ditemui semuanya tamak meminta terlalu banyak, kecuali seorang perempuan tua. Bagaimanapun si perempuan tua, hanya mengambil sesuai dengan yang dibayarnya, bahkan tidak lebih satu tetes pun.
Mengejutkan, Lu Dongbin berpikir akhirnya dia menemukan seseorang yang layak diselamatkan. Dia bertanya pada perempuan itu, “Semua yang datang membeli minyak selalu ingin mendapatkan lebih kecuali Anda. Kenapa tidak meminta lebih?”
Si perempuan menjawab, “Saya cukup puas dengan sebuah botol minyak, selain itu sangatlah tidak mudah bagi Anda untuk mencari nafkah dengan menjual minyak. Bagaimana saya boleh meminta lebih?” Kemudian dia menawarkan Lu Dongbin minuman arak untuk mengungkapkan rasa terima kasihnya.
Lu Dongbin merasa dia adalah seorang prospek yang baik dan bermaksud memberikan penyelamatan kepadanya. Saat dia menemukan ada sebuah sumur di ladangnya, dia menaburkan beberapa biji padi ke dalamnya. Dia berkata pada perempuan itu, “Anda bisa mendapatkan keberuntungan dengan menjual air dalam sumur ini.” Lalu dia beranjak pergi.
Perempuan tua itu berbalik dan menemukan air dalam sumur tersebut telah berubah menjadi arak. Seperti saran Lu Dongbin, perempuan tua itu menjual arak dalam sumur itu dan meraih keberuntungan selama setahun.
Pada suatu hari Lu Dongbin datang kembali ke tempat perempuan tua itu. Si perempuan tua tidak berada di rumah, hanya anak lelakinya yang ada di dalam. Lu Dongbin bertanya padanya, “Bagaimana hasil dari usaha menjual arak?”
“Usahanya berjalan sangat baik, tetapi tidak ada penyulingan biji–biji padi untuk memberikan makanan pada babi-babi.” jawab si anak lelaki. Mendengar perkataannya, Lu Dongbin mendesah. “Ketamakan manusia telah mencapai pada tingkat separah ini.” Maka dia mengambil kembali biji-biji beras dalam sumur tersebut dan berlalu pergi.
Tidak lama kemudian, perempuan tua itu kembali. Anak lelakinya menceritakan apa yang telah terjadi. Dia pergi ke sumur dan melihat ke dalam. Arak di dalamnya telah berubah kembali menjadi air. Si perempuan tua itu bergegas ke pintu, namun Lu Dongbin telah menghilang.
Lu Dongbin meninggalkan Yue Yang menuju Danau Dong Ting dan meninggalkan sebuah puisi yang meratapi sifat manusia, “Tiga kali ke Yue Yang namun belum menemukannya, menyenandungkan sajak saat melintasi Danau Dong Ting.”

13 Des 2012

Apakah Agama Buddha Itu Kuno?




Apakah Agama Buddha Itu Kuno?

Oleh Y M Bhikkhu Uttamo Mahathera


Kalau kita melihat agama Buddha 'secara sepintas' maka kita akan dihadapkan pada satu anggapan bahwa agama Buddha adalah agama yang tidak menarik, agama yang kadang-kadang terlihat bersifat mistis dan sudah tidak cocok lagi dengan kehidupan modern seperti sekarang ini. Mengapa demikian? Coba kita perhatikan semua perlengkapan sembahyang yang ada di altar. Ada patung yang maha besar dan kita bernamaskara atau satu persujudan kepada patung tersebut sehingga orang lalu menyatakan bahwa agama Buddha adalah penyembah berhala. Kita juga akan menemukan dupa/hio dan bunga yang mirip seperti untuk sesajen. Kemudian ada lilin yang seolah-olah berkata bahwa agama Buddha belum percaya akan adanya listrik.

Belum lagi terlihat gentong yang memberi kesan seolah-olah kita sedang berada disebuah toko barang antik. Kalau kita perhatikan lagi, kita akan menemukan makhluk-makhluk yang lebih antik lagi; yakni bahwa di zaman yang serba canggih seperti sekarang ini, kita tetap duduk di lantai bila sedang melaksanakan kebaktian. Dari sinilah kritikan-kritikan terhadap agama Buddha dilontarkan! Kita mungkin pernah mendengar orang mengatakan bahwa agama Buddha adalah agama yang sudah kuno dan ketinggalan zaman. Hal ini dapat dimengerti karena mereka hanya melihat dari sudut tradisi/luar saja. Padahal ajaran Sang Buddha tidak pernah ketinggalan zaman.

       Lalu apa buktinya bahwa agama Buddha itu mengikuti perkembangan zaman? Setiap kali kita mengikuti kebaktian, kita tentu membaca tuntunan Tisarana dan Pancasila yaitu menghindari pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, perzinahan, kebohongan, dan mabuk-mabukkan. Apakah Pancasila ini sudah kuno dan milik umat Buddha saja? Apakah agama lain menghalalkan pembunuhan dan penganiayaan, pencurian, perzinahan, kebohongan, dan mabuk-mabukkan? Tentu kita akan menjawab: "Tidak!" karena semua manusia pasti harus melaksanakan Pancasila baik pada masa yang lampau, sekarang maupun masa yang akan datang. Ini adalah satu bukti bahwa ajaran Sang Buddha selalu mengikuti perkembangan zaman.

      Mungkin hal ini belum dapat memuaskan Saudara karena masih terlalu umum. Untuk itu mari kita lihat intisari/jantung dari seluruh ajaran Sang Buddha. Apakah intisari/jantung ajaran Sang Buddha itu? Intinya adalah "kurangi kejahatan, tambahlah kebaikan, sucikan hati dan pikiran". Apakah hal tersebut hanya berlaku di zaman Sang Buddha dan hanya milik agama Buddha saja? Apakah agama lain menganjurkan: "tambahlah kejahatan, kurangi kebaikan dan kacaukan pikiran?" tentu tidak! Dengan demikian tidak ada lagi alasan untuk mengatakan bahwa ajaran Sang Buddha sudah kuno dan ketinggalan zaman. Karena sesungguhnya ajaran Sang Buddha selalu mengikuti zaman! Bahkan Albert Einstein yang terkenal sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan pernah menyatakan bahwa "Agama yang bisa menjawab tantangan ilmu pengetahuan adalah agama Buddha".

      Oleh karena itu berbahagialah kita sebagai umat Buddha. Namun hanya berpuas diri sebagai umat Buddha masih belum cukup, karena ada ajaran yang lebih dalam lagi yaitu kita hendaknya bisa melaksanakan ajaran Sang Buddha di dalam kehidupan sehari-hari. Ini penting sekali karena ajaran Sang Buddha itu tidak hanya bersifat teori tetapi perlu dilaksanakan! Hal ini sama halnya dengan contoh orang yang mempunyai hobby berenang. Misalnya Saudara diberitahu bahwa berenang itu menyenangkan dan dengan bisa berenang maka Saudara tidak perlu lagi takut kepada air. Lalu Saudara suka berkhayal tentang berenang. Tetapi kalau Saudara tidak pernah mau mencoba, apakah Saudara akan bisa berenang, walaupun teori-teori berenang sudah dikuasai? Apakah Saudara cuma cukup berbangga: "Ah... saya 'kan bisa teori berenang." Tentu tidak! Demikian pula dengan ajaran Sang Buddha! Ajaran Sang Buddha memang sungguh luar biasa, begitu agung, begitu indah dan tidak pernah ketinggalan zaman. Tetapi kalau Saudara tidak pernah mempraktekkannya, apakah hal tersebut akan bermanfaat? Justru dengan melaksanakan ajaran Sang Buddha, Saudara akan bisa menyelesaikan permasalahan di dalam kehidupan sehari-hari.

      Lalu bagaimanakah cara menyelesaikan permasalahan kehidupan dengan ajaran Sang Buddha? Sebetulnya ajaran Sang Buddha itu sudah terbabar di altar, hanya saja kita jarang memperhatikannya. Perlengkapan sembahyang yang dianggap kuno itu ternyata mampu menjadi salah satu medium yang dapat membabarkan Dhamma karena tersirat makna yang cukup dalam dan bisa digunakan untuk menyelesaikan permasalahan kehidupan:
  
    1. Patung Sang Buddha
      Patung Sang Buddha ini bentuknya bermacam-macam. Ada yang menggunakan bentuk seperti payung yang ada di Candi Borobudur, ada yang menggunakan gaya India, Thailand, Srilanka, dsb. Kenapa bisa berbeda-beda? Karena sesungguhnya patung Sang Buddha bukan melambangkan/mewujudkan manusia Siddhattha Gotama. Jadi kalau Saudara berada di depan patung Sang Buddha, jangan Saudara membayangkan bahwa Sang Buddha itu seperti patung yang ada di hadapan Saudara atau yang pernah Saudara lihat. Kalau kita mengingat kembali riwayat hidup Sang Buddha, kita akan melihat bahwa ketika Beliau masih menjadi bodhisatva, sesungguhnya Beliau memiliki satu kehidupan yang sangat berlebihan; ada harta, tahta dan wanita. Namun Pangeran Siddhattha adalah manusia yang mempunyai cara berpikir yang berbeda. Ketika Beliau menyadari bahwa hidup ini sesungguhnya tidak kekal dan tidak memuaskan, Beliau pun memutuskan untuk mencari obat yang dapat mengatasi ketuaan, sakit, lahir dan mati; walaupun sangat menderita, Beliau terus berjuang. Bahkan pada suatu hari Beliau bertekad untuk tidak akan berdiri dari tempat duduknya sebelum menemukan obat sakit, tua, lahir dan mati; dan malam itu juga Beliau berhasil menembus hakekat hidup yang tidak kekal yang disebut mencapai Nibbana/padamnya keinginan, yang sekarang diperingati setiap hari Waisak. Inilah sesungguhnya makna yang terkandung dari patung Sang Buddha yaitu lambang semangat yang tidak pernah kenal putus asa. Ketika melihat patung Sang Buddha, hendaknya muncul semangat untuk bekerja, semangat untuk berjuang dalam meraih cita-cita. Kita bersujud di depan patung Sang Buddha adalah untuk menghormati Guru kita yang telah mengajarkan kebenaran, jadi bukan menyembah pada patung. Dengan demikian, kita tidak akan pernah kekurangan/kehilangan semangat dalam perjuangan hidup kita.
     
 2. Lilin
      Lilin ini sesungguhnya juga merupakan suatu lambang. Seperti lilin yang rela hancur demi menerangi kegelapan, demikian juga hendaknya seorang umat Buddha mau berkorban untuk kebahagiaan makhluk lain. Pengorbanan besar telah diberikan oleh Guru kita; 6 tahun menderita dan membaktikan diri selama 45 tahun untuk mengajarkan Dhamma setiap hari. Kita pun sebagai murid-muridNya hendaknya bersikap demikian; seperti lilin yang menerangi kegelapan, demikian juga hendaknya kita sebagai umat Buddha bisa menjadi pelita di dalam kehidupan bermasyarakat dengan kebenaran yang dibabarkan oleh Sang Buddha.
      
3. Bunga
      Bunga melambangkan ketidak kekalan; hari ini indah dan wangi tetapi besok akan layu, lusa akan membusuk dan dibuang. Demikian pula dengan diri kita; hari ini kita masih sehat, kuat dan cantik tetapi dengan berlalunya sang waktu; kesehatan, kekuatan dan kecantikan kita pun akan berkurang. Seperti bunga yang sekarang segar, besok akan layu dan dibuang; demikian juga hendaknya kita selalu menyadari bahwa pada suatu ketika kita pun akan dibuang, berpisah dengan yang dicintai dan berkumpul dengan yang dibenci. Oleh karena itu, tidak ada gunanya kita sombong/berbesar kepala karena semua ada batasnya dan tidak kekal. Ini adalah Dhamma yang dipesankan lewat altar.
      
4. Air
      Air ini melambangkan pembersih segala kotoran. Seperti air yang membersihkan semua debu-debu kekotoran; demikian juga ajaran Sang Buddha hendaknya bisa membersihkan segala kekotoran yang melekat di batin dan pikiran kita baik ketamakan, kebencian maupun kebodohan.

2 Sep 2012

Tiga


Tiga


Tiga atau Tri dalam bahasa Sansekerta tampaknya menyimpan misteri. Tiga tampaknya mempunyai arti atau makna khusus dalam Agama dan Spiritualitas di dunia.

Ada Tri Murti dalam Agama Hindu : Brahma, Wishnu, Shiwa.

Ada Trinitas dalam Agama Kristen : Allah Bapa, Putera, Roh Kudus.

Ada Tri Ratna dalam Agama Buddha : Buddha, Dharma dan Sangha.


Dan ketika saya bertanya pada teman saya - seorang Muslim - apakah ada yang signifikan dengan tiga ini - ia pun meng-iya-kan. Dalam tradisi Sufi juga dikenal tiga yang terdiri dari : Allah. Jibril. Muhammad. Ajaran Guru Nanak - yang lazim dikenal sebagai Agama Sikh - juga mengenal tiga. Guru - Guru , Sikh - Siswa dan Rabb - Allah.



Ajaran Kawruh Jiwa - Ki Ageng Suryamentaram ternyata juga bertumpu pada tiga.
Pikir - sang tukang catet - yang sering bikin kita ruwet dan mumet. Rasa Kramadangsa - rasa yang selalu bereaksi terhadap lelawanan - keadaan dan kondisi di luar - sering bikin kita kisruh. Rasa Sejati - yang adem dan ayem. Ini rasa yang terus diam - mengamati saja. Nah . . . yang ini - mak nyuus - sungguh bisa bikin kita sumeleh , seger dan tentrem.

masih ada lagi . . . 

Ada tiga pilar dalam Buddhisme Zen. Joriki - Meditasi. Kensho Godo - Pencerahan. Mujodo no Taigen - Pelaksanaan dharma dalam hidup sehari-hari.

Ada Tri Kaya dalam Buddhisme Mahayana. Dharma Kaya. Sambhoga Kaya. Nirmana Kaya. Ada tiga tingkatan Ke Buddhaan - Dhyani Buddha - Amitabha. Dhyani Bodhisattva - Avalokitesvara. Manusi Buddha - Siddharta Gautama.

Dan entah kebetulan atau apa - Agama Buddha pun terbagi menjadi tiga aliran besar : Theravada - yang konservatif, mengagungkan nalar. Mahayana - yang liberal - menafsir - lebih bertumpu pada hati. Vajrayana - yang esoteris dan mistikal.

Tiongkok pun tak mau ketinggalan . . . 

Ada Tri Dharma - San Jiao - Tiga Ajaran di akar rumput Tiongkok. Konfusianisme, Buddhisme dan Taoisme - yang saling menaut di akar rumput Tiongkok. Ketiga ajaran ini tertaut dalam satu kata kunci : harmoni. Konfusianisme mengajarkan harmoni antar sesama manusia - tekanan pada kehidupan nyata yang dijalani manusia di bumi saat ini - harmoni dengan segala permasalahan dan perjuangan yang harus dilakukan. Buddhisme mengajarkan bagaimana manusia membuat harmoni dengan dirinya sendiri. Tekanan pada pemahaman yang mendalam pada makna sesungguhnya dari kehidupan di dunia. Taoisme mengajarkan bagaimana manusia harus membuat harmoni dengan alam semesta. Ia adalah bagian - yang selayaknya memahami dan mengerti tempat dimana ia berpijak dan berada. Ada tiga faktor yang berpengaruh atas kehidupan manusia dalam Budaya Tionghoa : Keberuntungan Langit - Thian Tao. Keberuntungan Bumi - Thi Tao. Keberuntungan karena usaha manusia itu sendiri - Ren Tao.

Dan kalau anda seorang praktisi Tai Chi - ketika berlatih - anda harus memperhatikan tiga hal. Anda harus terhubung dengan Enerji Langit di Atas. Anda harus menyerap Enerji Bumi di Bawah. Dan ketika bergerak - anda harus mengalir harmonis dengan Medan Enerji - Chi - di tempat anda bergerak.

Tiga. Tiga. Tiga. 

Ada apa sebenarnya dengan Tiga ?

Tiga. Bentuk segi tiga memang mewujudkan satu bentuk yang kokoh, menopang satu dengan yang lain - dan langsung saling terhubung. Dalam tiga ini - ketiganya dapat langsung saling terhubung. Empat tidak - satu terhubung dengan dua tapi terpisah dari yang satunya lagi. Demikian juga Lima, Enam - dan seterusnya.

Apakah ini jawab dari misteri Tiga itu ?

Wah - saya tidak tahu. Kalau anda tahu - anda yang saya harap memberi tahu saya. Saya tidak tahu bagaimana jelasnya. Saya menulis hanya karena rasa penasaran saja. Saya justru ingin mendengar jawabnya dari anda.

memang - ada misteri apa sebenarnya . . . 

Coba sekarang kita tarik tiga dari ranah Agama dan Spiritualitas. Ternyata tiga juga masih ada di mana - mana.

Dalam pemerintahan - kita kenal tiga. Eksekutif. Legislatif. Judikatif. Di dunia kampus - di ranah perguruan tinggi - ada kita temukan tiga. Tri dharma Perguruan Tinggi. Bahkan - susunan Pembantu Rektor dan Direktur juga tiga. Pembantu Rektor Bidang Pendidikan. Keuangan. Kemahasiswaan.

Dalam ranah politik - pendiri Tiongkok modern - Dr. Sun Yat Sen - juga mengemukakan tiga untuk membangun sebuah Tiongkok yang baru. San Min Chu - tiga dasar Negara : Demokrasi, Nasionalisme dan Kesetaraan. Demikian juga pada masa kejatuhan Presiden Soekarno - kita banyak mendengar tentang Tritura - Tiga Tuntutan Rakyat.

Tiga lagi.

penutup . . .

ketika melihat diri sendiri - ternyata saya juga kena sawab dari tiga ini.

Saya seorang minoritas pangkat tiga.

Saya Tionghoa - minoritas satu.
Saya Buddhis - minoritas dua.
Saya Zen - minoritas tiga.

Tionghoa. Buddhis. Zen.

Tiga !

27 Agu 2012

KIAMAT (Versi Buddhis)



KIAMAT (Versi Buddhis)


Oleh: Corneles Wowor, M.A.
Pada suatu ketika bumi kita ini akan hancur lebur dan tidak ada. Tapi hancur leburnya bumi kita ini atau kiamat bukanlah merupakan akhir dari kehidupan kita. Sebab seperti apa yang telah diuraikan di halaman terdahulu, bahwa di alam semesta ini tetap berlangsung pula evolusi terjadinya bumi. Lagi pula, bumi kehidupan manusia bukan hanya bumi kita ini saja tetapi ada banyak bumi lain yang terdapat dalam tata surya - tata surya yang tersebar di alam semesta ini.


Kiamat atau hancur leburnya bumi kita ini menurut Anguttara Nikaya, Sattakanipata diakibatkan oleh terjadinya musim kemarau yang lama sekali. Selanjutnya dengan berlangsungnya musim kemarau yang panjang ini muncullah matahari yang kedua, lalu dengan berselangnya suatu masa yang lama matahari ketiga muncul, matahari keempat, matahari kelima, matahari keenam dan akhirnya muncul matahari ketujuh. Pada waktu matahari ketujuh muncul, bumi kita terbakar hingga menjadi debu dan lenyap bertebaran di alam semesta.


Pemunculan matahari kedua, ketiga dan lain-lain bukan berarti matahari-matahari itu tiba-tiba terjadi dan muncul di angkasa, tetapi matahari-matahari tersebut telah ada di alam semesta kita ini. Dalam setiap tata surya terdapat matahari pula.
Menurut ilmu pengetahuan bahwa setiap planet, tata surya, dan galaxi beredar menurut garis orbitnya masing-masing. Tetapi kita sadari pula, karena banyaknya tata surya di alam semesta kita ini, maka pada suatu masa garis edar tata surya kita akan bersilangan dengan garis orbit tata surya lain, sehingga setelah masa yang lama ada tata surya yang lain lagi yang bersilangan orbitnya dengan tata surya kita. Akhirnya tata surya ketujuh menyilangi garis orbit tata surya kita, sehingga tujuh buah matahari menyinari bumi kita ini. Baiklah kita ikuti uraian tentang kiamat yang dikhotbahkan oleh Sang Buddha kepada para bhikkhu :
Bhikkhu, akan tiba suatu masa setelah bertahun-tahun, ratusan tahun, ribuan tahun, atau ratusan ribu tahun, tidak ada hujan. Ketika tidak ada hujan, maka semua bibit tanaman seperti bibit sayuran, pohon penghasil obat-obatan, pohon-pohon palem dan pohon-pohon besar di hutan menjadi layu, kering dan mati .....
Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kedua muncul. Ketika matahari kedua muncul, maka semua sungai kecil dan danau kecil surut, kering dan tiada .....


Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari ketiga muncul. Ketika matahari ketiga muncul, maka semua sungai besar, yaitu sungai Gangga, Yamuna, Aciravati, Sarabhu dan Mahi surut, kering dan tiada .....
Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keempat muncul. Ketika matahari keempat muncul, maka semua danau besar tempat bermuaranya sungai-sungai besar, yaitu danau Anotatta, Sihapapata, Rathakara, Kannamunda, Kunala, Chaddanta, dan Mandakini surut, kering dan tiada .....


Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari kelima muncul. Ketika matahari kelima muncul, maka air maha samudra surut 100 yojana*, lalu surut 200 yojana, 300 yojana, 400 yojana, 500 yojana, 600 yojana dan surut 700 yojana. Air maha samudra tersisa sedalam tujuh pohon palem, enam, lima, empat, tiga, dua pohon palem, dan hanya sedalam sebatang pohon palem. Selanjutnya, air maha samudra tersisa sedalam tinggi tujuh orang, enam, lima, empat, tiga, dua dan hanya sedalam tinggi seorang saja, lalu dalam airnya setinggi pinggang, setinggi lutut, hingga airnya surut sampai sedalam tinggi mata kaki.


Para bhikkhu, bagaikan di musim rontok, ketika terjadi hujan dengan tetes air hujan yang besar, mengakibatkan ada lumpur di bekas tapak-tapak kaki sapi, demikianlah dimana-mana air yang tersisa dari maha samudra hanya bagaikan lumpur yang ada di bekas tapak-tapak kaki sapi.


Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari keenam muncul. Ketika matahari keenam muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung, mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap. 

Para bhikkhu, bagaikan tungku pembakaran periuk yang mengeluarkan, memuntahkan dan menyemburkan asap, begitulah yang terjadi dengan bumi ini.
Demikianlah, para bhikkhu, semua bentuk (sangkhara) apa pun adalah tidak kekal, tidak abadi atau tidak tetap. Janganlah kamu merasa puas dengan semua bentuk itu, itu menjijikkan, bebaskanlah diri kamu dari semua hal.


Para bhikkhu, selanjutnya akan tiba suatu masa, suatu waktu di akhir masa yang lama, matahari ketujuh muncul. Ketika matahari ketujuh muncul, maka bumi ini dengan gunung Sineru sebagai raja gunung-gunung terbakar, menyala berkobar-kobar, dan menjadi seperti bola api yang berpijar. Cahaya nyala kebakaran sampai terlihat di alam Brahma, demikian pula dengan debu asap dari bumi dengan gunung Sineru tertiup angin sampai ke alam Brahma.


Bagian-bagian dari puncak gunung Sineru setinggi 1, 2, 3, 4, 5 ratus yojana terbakar dan menyala ditaklukkan oleh amukan nyala yang berkobar-kobar, hancur lebur. Disebabkan oleh nyala yang berkobar-kobar bumi dengan gunung Sineru hangus total tanpa ada bara maupun abu yang tersisa. Bagaikan mentega atau minyak yang terbakar hangus tanpa sisa. Demikian pula bumi maupun debu tidak tersisa sama sekali."
Catatan*) Yojana adalah semacam ukuran yang ada di masa Sang Buddha yang jauhnya kira-kira 7 mil.
Dikutip dari Website : WWW.Samagghi-Phala.or.id 

21 Agu 2012

Xing Fu Biao - Jam Kebahagian


Apa arti sebuah nama ?


Apa yang anda ingat saat anda ditanyakan tentang Air Galon ?
Jawabannya : Air AQUA

Apa yang anda ingat saat anda ditanyakan pergi ke suatu tempat dengan apa?

Jawabannya : HONDA (kereta)

Mengapa demikian ? 
Karena Brand Image suatu produk. Yang sudah banyak dipakai.

Lalu apa yang anda lihat saat jam dinding atau arloji ?

Jawabannya : Angka 1 hingga 12 ( tergantung posisi jam berapa )

Bagaimana kalo suatu hari jam atau arloji bukan lagi berupa angka 1 hingga 12 ? 
Tetapi ada makna yang terkandung didalam masing2 waktu.



Jam 1 > Jam Sukacita (快樂/Joyful)
Waktu yang indah dan saat yang penuh sukacita. Hidup menjadi indah jika hati penuh dengan sukacita. Saat ini bukanlah waktu yang buruk untuk bersusah hati dan menderita. Isilah hidup dengan sukacita, maka semua akan terasa indah dan bermakna.

Jam 2 > Jam Gembira (歡 喜/Cheerful)
Ini adalah saat yang indah dan waktu gembira bukan waktu buat cemberut atau menangis. Kesedihan dan kekesalan bukanlah solusi bagi setiap masalah yang kita hadapi, hadapi dengan gembira, barulah semuanya akan selesai dengan baik. Inilah jalan kebahagiaan.

Jam 3 > Jam Leluasa (潚 灑/Casual Elegant)
Saat leluasa melepas semua beban dan tekanan. Hidup tidak pernah tidak ada beban, hidup juga tak pernah tidak ada masalah. Namun dengan hati yang leluasa, semua beban dan masalah akan menjadi ringan dan mudah untuk dihadapi.

Jam 4 > Jam Riang (開 心/Delightful)
Saat untuk tetap riang dan senang. Setiap momen kehidupan yang sudah berlalu, setiap kondisi kehidupan yang sudah dilewati, setiap sebab jodoh yang ditemui, yang menyenangkan ataupun yang tidak menyenangkan, semuanya tetap membuat hati riang. Wajah selalu menampilkan senyuman dan dihadapi dengan riang gembira. Selalu membuka hati untuk datangnya semua hal yang menyenangkan atau tidak menyenangkan, dan menerimanya dengan tulus dan ikhlas. Maka hatipun tetap riang gembira.

Jam 5 > Jam Damai (心寧/Amicable)
Saat untuk hening dan damai. Sering hidup dihadapi dengan lingkungan yang sumpek dan tidak menyenangkan, namun kita bisa memilih tetap tenang dan hening dalam hati. Biarlah lingkungan sumpek dan tidak menyenangkan namun hati berhak tetap sabar dan damai mengikuti kodrat waktu yang indah.

Jam 6 > Jam Harapan ( 希 望/Bright)
Hidup harus selalu dipenuhi dengan harapan. Hidup dengan harapan barulah dapat memandang masa depan dengan optimis dan menghadapi hidup dengan semangat. Saat pagi menjelang (jam 6 pagi), sambutlah datangnya hari yang baru dengan penuh harapan . Saat malam menjelang (jam 6 malam) , juga menutup hari yang sibuk dengan penuh harapan akan datangnya hari esok yang lebih baik. Hidup dengan harapan, maka tidak ada istilah putus asa, kecewa, sedih dalam kamus hidup kita. Hidup yang selalu punya harapan, akan selalu dengan semangat, menjalani hari demi hari yang dilewati dengan harapan bahwa hari esok harus lebih baik dari hari ini. Menjadi insan yang lebih baik dari hari ini, menjadi lebih bernurani dari hari ini.

Jam 7 > Jam Sukses/Penuh berkah ( 如意/Lucky)
Saat untuk merasakan betapa hidup penuh dengan berkah. Kesuksesan bukanlah dinilai dari berapa banyak harta yang kita miliki, berapa tinggi kedudukan yang kita raih, berapa tenar diri kita, tapi hidup yang sukses adalah hidup yang dipenuhi dengan berkah. Kasihi orang tua kita, karena mereka adalah berkah dalam hidup kita. Kasihi suami/istri, dan anak-anak kita, mereka berkah dalam hidup kita. Kasihilah umat manusia, mereka juga adalah berkah yang hadir dalam hidup kita karena kita tak bisa hidup sendiri. Kasihilah langit, bumi, dan semua makhluk, karena mereka adalah juga berkah dalam hidup kita. Tiada langit dan bumi bagaimana bisa hidup? Tanpa laksa makhluk dan benda, bagaiman kita bisa bertahan hidup? Sungguh orang yang penuh berkah adalah orang yang bisa menghargai setiap yang hadir dalam hidupnya, setiap masalah yang datang dalam hidupnya. Orang yang bisa merasakan berkah yang berlimpah dalam hidupnya, dialah orang yang beruntung, dialah orang yang sukses, dialah orang yang bahagia.

Jam 8 > Jam Cemerlang (光 明/Guileless)
Waktu dalam kecemerlangan berarti waktu dalam kejujuran dan wajar alami. Manusia sering hidup dalam kebohongan-kebohongan dan tak pernah menjadi dirinya sendiri. Kesesatan dan kegelapan batin menutupi hatinya sehingga terang nurani tak terpancarkan. Saatnya memulai hidup yang cemerlang, dengan kejujuran hati dan hidup dengan wajar alami. Lenyapkan semua sampah yang menutupi batin dan hati , isilah dengan kasih sehingga terang keindahan kodrati kita akan terpancar dari dalam diri. Inilah hidup yang cemerlang.

Jam 9 > Jam Keyakinan (信心/Faithful)
Saat untuk memenuhi diri dengan keyakinan. Keyakinan mendatangkan kesetiaan. Yakin akan hidup yang lebih baik, dan bersikap setia pada kebenaran. Orang Suci selalu setia selalu yakin dan setia akan kebenaran. Walau hidupnya miskin menderita, namun kesetiaan-Nya tak pernah luntur. Walau ujian , hujan badai menghadang, keyakinan dan kesetiaannya tetap kokoh, tak tergoyahkan. Selama selalu dalam keyakinan dan kesetiaan maka akan selalu berjalan dalam kebenaran Nurani, kebenaran Tuhan, hidup pun akan selalu dalam kebahagiaan.

Jam 10 > Jam Bebas (自在/Free)
Saatnya untuk bebas, melepaskan semua kemelekatan dan keegoisan. Hidup jadi menderita karena terlalu banyak kemelekatan dan keterikatan. Melekat terhadap yang dimiliki, melekat terhadap kedudukan dan jabatan, melekat terhadap ketenaran, bahkan melekat terhadap sikap batin diri sendiri (benci, iri, curiga, dendam, kecewa, kesal, dsbnya). Sikap tak ikhlas dan tak rela melepaskan, mendatangkan kemelekatan yang berujung pada penderitaan. Saatnya untuk bebas….lepaskan semua kebencian, kekesalan, kekecewaan….jadilah jiwa yang bebas. Jiwa yang bebas…itulah nurani. Berjalan dalam nurani, itulah kebahagiaan.

Jam 11 > Jam Puas (滿足/Actualized)
Saat untuk tahu berpuas diri dengan memenuhi hati dengan rasa syukur. Hati yang tahu rasa puas, akan selalu punya rasa syukur dalam hatinya. Hati yang tak tahu puas, akan merasa tak pernah cukup dalam hidupnya. Semua yang dimiliki terasa tidak cukup. Keserakahan akan memenuhi hatinya untuk memiliki banyak hal yang tak dimiliki. Akhirnya ini menjadi akar utk tumbuhnya kejahatan dalam diri. Kejahatan akan mendatangkan penderitaan bagi dirinya dan bagi orang lain. Namun hati dan sikap yang tahu bersyukur akan tahu puas dengan segala yang sudah dimiliki. Sikap ini akan mendatangkan sikap menghargai apa yang sudah dimiliki. Tak ada keserakahan, tak ada kejahatan. Bukankah ini akan mendatangkan kebahagiaan?

Jam 12 > Jam Bahagia (幸福/Fortunate)
Saat untuk benar-benar bahagia. Melaksanakan point 1-11 , maka semuanya akan berakhir dengan kebahagiaan. Hidup dalam sukacita dan gembira, tentu ini adalah sikap hidup yang mendatangkan bahagia. Hidup dengan leluasa dan riang, juga akan mendatangkan kebahagiaan. Hari-hari dipenuhi dengan harapan akan lebih baik, bukankah ini juga kebahagiaan. Hidup yang sukses , cemerlang dan penuh dengan keyakinan, ini juga berujung pada kebahagiaan. Jiwa bebas leluasa, tiada ikatan dan kemelekatan, sungguh bahagia. Tahu puas dan senantiasa bukankah ini adalah kebahagiaan?
Bahagia menjadi tujuan dan cita-cita hidup setiap orang. Bahagia bukan hanya tertawa, tetapi bahagia dalam hati dan jiwa. Bahagia yang bebas leluasa, bahagia yang tiada kemelekatan. Bahagia karena tiada lagi kejahatan, kesesatan dalam jiwa, tiada lagi kebohongan-kebohongan, tiada lagi keserakahan, tiada lagi rasa pesimis, tiada lagi cemberut dan kesedihan. Nurani bebas leluasa, nurani telah menjadi pengendali diri. Diri telah menjadi DIRI yang sesungguhnya. Inilah kebahagiaan.
Setiap jam adalah jam kebahagiaan. Setiap hari adalah hari yang baik. Dari pagi hingga malam adalah hari penuh berkah. Hidup boleh kaya boleh miskin, senang atau susah, lancar atau penuh rintangan namun setiap waktu adalah waktu bahagia, sukacita dan kegembiraan!
Jam ini bukan jam biasa yang hanya menunjukkan waktu kepada anda, tetapi jam yang akan menyempurnakan semangat hidup Anda, meningkatkan spiritualitas hidup Anda , agar selama 365 hari, setiap menit dan detik hidup Anda dipenuhi dengan bahagia, gembira, dan sukacita. Menjadikan hidup dan kehidupan Anda indah dan bermakna!


Apa tujuannya sih ?

Jawabannya :
1. Mengajak insan manusia kembali ke watak asli : Yang Penuh Bahagia, Yang Penuh Suka Cita, Yang Penuh Kebebasan, Yang Bersahaja, Yang Penuh Syukur, Yang Penuh Cinta Kasih dll
2. Membentuk pola pikir manusia yang berbahagia, tidak terikat oleh angka dan untung rugi saja
3. Mengajak Manusia Untuk Memiliki Konsep " DUNIA SATU KELUARGA"

Kita Selalu Terikat oleh Angka, Untung Rugi dan Hidup menjadi EGOIS

Contoh begini :

Saat kita dimarah, kita selalu menjadi marah juga, lalu mau membalas, bila perlu menghancurkannya.
Dengan arloji kebahagiaan ini, mengajak kita untuk kembali ke watak asli yang penuh kasih yaitu memaafkan, dan watak asli yang selalu berbahagia.

Saat kita mau marah.... Ketika kita melihat arloji kita, tak sengaja dia mengingatkan kita untuk berbahagia sesuai jam berapa saat itu.

Selain itu dalam arloji kebahagiaan, tujuan yang paling penting adalah mengajak kita untuk memiliki pola pikir dan konsep " Dunia Satu Keluarga"

Apa itu Dunia Satu Keluarga?
1. Setiap insan manusia tidak membedakan suku, agama, ras, bangsa
2. Setiap insan manusia memiliki konsep yang sama bahwa tujuan hidup adalah kebahagiaan bersama.
3. Sama-sama ingin membentuk dunia damai, tanpa perang, tanpa keributan.

20 Jun 2012

DI KREMASI ATAU DI MAKAMKAN ?

Dalam Agama Buddha tidak ada peraturan yang mewajibkan apakah jenazah seorang umat Buddha harus diperabukan atau dimakamkan. Pilihan atas dua macam cara umum itu ataupun cara-cara lainnya [misalnya disumbangkan ke rumah sakit untuk penelitian medis] dianggap sebagai hak asasi yang bersangkutan. Apabila ada pesan yang disampaikan sebelum meninggal dunia, pesan itulah yang layak dipenuhi sebagai suatu penghormatan terhadap orang yang mati. Seandainya tidak ada pesan yang ditinggalkan, hal ini tergantung keputusan sanak keluarga yang bersangkutan.
Walaupun tidak ada peraturan yang bersifat wajib, perabuan menempati prioritas tertinggi dalam tradisi Buddhis. Ini bersumber pada Mahaparinibbana Sutta. Dalam wejangan terakhir tersebut, Buddha Gotama meninggalkan pesan kepada Ananda Thera untuk memperabukan jenazah-Nya. Sumber-sumber lain dalam Kitab Suci Tipitaka menunjukkan bahwa para siswa utama Beliau juga memilih perabuan. Dengan pertimbangan ini, kiranya layak bagi umat Buddha untuk menerapkan serta melestarikan cara ini.
Ada sementara umat Buddha yang menghindari perabuan dengan alasan kasihan yang mati akan kepanasan karena terbakar api. Ini adalah suatu alasan dangkal yang bersifat kekanak-kanakan. Kematian adalah perpisahan mutlak antara tubuh jasmaniah dengan unsur-unsur batiniah. Makhluk yang sudah mati tidak lagi memiliki perasaan, ingatan, corak batin serta kesadaran. Karena itu, ia sudah tidak akan merasa apa pun atas jenazah yang ditinggalkannya. Lagipula, kalaupun ada perasaan semacam itu, apakah ia tidak akan merasa kepengapan apabila dikubur/dipendam dalam tanah? Adakah cara lain yang lebih baik?
'Perabuan' adalah terjemahan baku kata `cremation' (kremasi). Kata ini sesungguhnya berasal dari kata Latin 'cremo' yang secara harfiah berarti `membakar' -khususnya pembakaran jenazah.
Kebanyakan ahli purbakala memprakirakan bahwa perabuan diperkenalkan sebagai suatu cara memusnahkan mayat pada Zaman Batu -sekitar 3,000 tahun Sebelum Masehi. Cara yang agaknya pertama kali dipakai di Eropah atau Timur Dekat ini kemudian dipakai secara umum di Yunani (800 SM) dan Roma (600 SM). Perabuan merupakan lambang kebesaran (status symbol). Ketika Kristen menjadi agama-negara Kekaisaran Roma pada sekitar tahun 100 Masehi, tatkala banyak penganut agama lain diasingkan dan dibinasakan, pemakaman (penguburan jenazah) merupakan sate-satunya cara yang dipakai di seluruh penjuru Eropah. Tepatnya pada tahun 1886, Gereja Roman Katholik secara resmi melarang pelaksanaan perabuan jenazah. Jemaat gereja yang ketahuan mengatur penyelenggaraannya akan dikucilkan (excommunicated). Ini berlangsung hingga masa Perang Dunia ke-II. Pada tahun 1961, Patrick Konstantinopel dari Gereja Orthodoks Timur memfatwakan bahwa: "Memang tidak ada peraturan orthodoks yang resmi terhadap perabuan, namun ada adat-istiadat yang kuat serta rasa kecenderungan terhadap pemakaman ala Kristen."
Ada dua alasan utama yang melandasi penolakan terhadap perabuan. Yang pertama adalah kekhawatiran yang berkaitan dengan kebangkitan tubuh dari mati serta penyatuan kembali dengan roh kekal sebagaimana yang dijanjikan. Apabila mayatnya dibakar hingga musnah tak berbekas, d.ikhawatirkan akan timbul masalah dalam penyatuan jasmaniah-rohaniah tersebut. Ini bersumberkan pada Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus 15:35-44. Alasan kedua, dalam masyarakat Israel kuno, pembakaran mayat lazimnya hanya diperuntukkan bagi para penyembah berhala, orang berdosa, pelaku kejahatan serta musuh. Dalam Kitab Kejadian 38:24, misalnya, dituliskan bahwa Yehuda memerintahkan agar menantu wanitanya yang sedang hamil anak kembar dibakar hingga mati karena dituduh telah melakukan perzinahan. Apabila seorang laki-laki menikahi wanita sekaligus ibunya, menurut Kitab Imamat 20:14, itu merupakan suatu perzinahan. Ketiga orang itu harus dibakar dalam api. Dalam bait ke 21:9, hukuman yang sama dija tuhkan kepada anak wanita seorang imam yang menjadi pelacur. Bahkan Tuhan sendiri, sebagaimana yang dikisahkan dalam Kitab Bilangan 16:35, memberangus Korah beserta 250 orang Israel karena menentang Nabi Musa. Sumber-sumber lain dalam Kitab Perjanjian Lama dapat dijumpai di Keluaran 32:20, Yosua 7:15-25, Hakim-Hakim 15:6, I Samuel 31:11-13, II Raja-raja 10:26, Yeremia 29:22, Amos 2:1. Sementara itu, sumber dalam Kitab Perjanjian Baru terdapat dalam Wahyu kepada Yohanes 20:15.
Para penganut Agama Kristen cenderung memilih pemakaman karena cara inilah dikehendaki oleh Tuhan terhadap jenazah Nabi Musa (Yosua 34:6). Surat Paulus yang Pertama kepada Jemaat di Korintus 15:35¬44 menceritakan bagaimana Tuhan membangkitkan tubuh orang-orang yang percaya. Sumber-sumber lain bertebaran di Kitab Kejadian, Yosua, Matius, Kisah Para Rasul.
Karena sedemikian besar manfaat serta kepraktisan perabuan dibandingkan dengan pemakaman (dengan segala dampak negatifnya: pencemaran lingkungan, pemborosan tempat, biaya dan sebagainya); pada zaman modern sekarang ini banyak orang yang memilih perabuan jenazah meskipun kurang begitu bersesuaian dengan ajaran agama yang dipercayai. Di kebanyakan negara besar di Eropah, lebih dari separo memakai cara perabuan. Di Jepang, perabuan yang pernah dilarang pada tahun 1875, kini diterapkan secara hampir menyeluruh.( Perabuan telah dikenal di Jepang sejak tahun 703 Masehi; hingga tahun 1644 semua kaisar diperabukan ) Di Amerika Serikat dan Kanada, telah dibangun lebih dari 30,000 tempat perabuan (crematorium) dengan statistik lebih dari setengah juta jenazah per tahun.
Sumber : Internet