12 Jun 2012

Pengusaha Terkaya Indonesia Meningal Dunia

Dari Cengkeh Jadi yang Terkaya
Salah satu konglomerat paling terkemuka di era Orde Baru yang kerap menjadi langganan dalam daftar papan atas orang terkaya Indonesia, Liem Sioe Liong atau Sudono Salim, Minggu (10/6) pukul 16.00 meninggal dunia di Raffles Hospital Singapura. Taipan yang akrab dipanggil Om Liem itu wafat pada usia 96 tahun di negara tempat ia ”mengungsi” dan mengendalikan bisnisnya sejak pecah kerusuhan Mei 1998. Menurut keterangan pihak keluarga, Om Liem meninggal karena sakit tua. Belum diketahui di mana dia akan dimakamkan, di Indonesia atau di Singapura.

Liem Sioe Liong yang mulai mengenal Indonesia pada usia 20 tahun, lahir di Fukien, China, 10 September 1915 (versi lain menyebutkan 16 Juli 1916). Ia menikahi Lie Las Nio (Lilani) dan memiliki empat anak, masing-masing Albert, Andre Halim, Anthony Salim, dan Mira.

Ia merupakan pendiri dan pemilik Central Bank Asia (1957) yang kemudian berubah nama menjadi Bank Central Asia (BCA) pada 1960. Om Liem juga pendiri dan pemilik Grup Salim, PT Bogasari Flour Mill, PT Mega, Bank Windu Kencana, PT Hanurata, PT Indocement, dan PT Waringin Kencana.

Sukses bisnis itu dirintis dengan proses panjang. Awalnya, bersama Liem Sioe Hie, kakak tertuanya, Liem Sioe Liong yang merupakan anak kedua dari tiga bersaudara itu membantu paman mereka yang berdagang minyak kacang di Kudus. Liem Sioe Hie lebih dulu beremigrasi ke Indonesia, yakni pada 1922, yang waktu itu masih jajahan Belanda.
Di tengah hiruk pikuk ekspansi Jepang ke Pasifik, pada 1938 Liem Sioe Liong mengikuti jejak abangnya. Dari Fukien, ia berangkat ke Amoy, tempat sebuah kapal dagang Belanda bersandar. Kapal itulah yang membawanya menyeberangi laut menuju Indonesia.

Sejak dulu, Kudus terkenal sebagai pusat pabrik rokok keretek, yang membutuhkan banyak bahan baku tembakau dan cengkih. Bisnis itulah yang kemudian digeluti Liem. Sejak zaman revolusi ia pun terlatih menjadi pemasok cengkih dengan jalan menyelundupkan bahan baku tersebut dari Maluku, Sumatera, dan Sulawesi Utara melalui Singapura, kemudian melalui jalur-jalur khusus penyelundupan menuju Kudus.

Tak heran, dagang cengkih merupakan salah satu pilar utama bisnis Liem Sioe Liong yang pertama, di samping tekstil. Dia mengimpor banyak produksi tekstil murahan dari Shanghai. Usahanya berkembang pesat.
Untuk melicinkan semua usahanya, Liem lantas mendirikan beberapa bank seperti Bank Windu Kencana dan Bank Central Asia. Pada 1970-an, BCA tumbuh menjadi bank swasta kedua terbesar di Indonesia dengan total aset 99 juta dolar AS.

Selain BCA, Grup Salim yang dibangunnya setapak demi setapak antara lain meliputi Indofood, Indomobil, Indocement, Indosiar, Indomaret, Indomarco, dan lain-lain. Menurut majalah Warta Ekonomi, aset Grup Salim diperkirakan mencapai Rp 39,4 triliun, berada di urutan ke-6 konglomerat Indonesia. Adapun Anthoni Salim merupakan orang terkaya ke-11 di Indonesia.

Jangan Curang

Dari berbagai usaha, keluarga Salim memiliki ratusan bisnis yang terdiri atas berbagai divisi, mulai perdagangan, industri, bank dan asuransi, divisi pengembangan (yang bergerak di bidang hasil hutan dan konsesi hutan), properti yang bergerak di bidang real estate, perhotelan, dan pemborong, divisi perdagangan eceran, hingga joint venture. Setiap divisi membawahi beberapa perusahaan raksasa berbentuk perseroan-perseroan terbatas.

Begitu hebat gurita bisnis yang dibangunnya, Om Liem pernah menduduki peringkat pertama sebagai orang terkaya di Indonesia dan Asia. Bahkan, ia pernah masuk daftar ”100 Orang Terkaya di Dunia”.

Apa rahasianya, hingga bisa jadi pengusaha besar? Om Liem punya bakat dan naluri bisnis yang luar biasa. Kedua, ia mengembangkan sifat-sifat pekerja keras, pantang menyerah, dan tekun. Ia menyebut, jika ingin sukses, jangan berpangku tangan saja. Semasa muda, bekerjalah habis-habisan. Bersemangatlah dan efektif dalam menggunakan waktu. Jangan cuti lama-lama, jangan selalu jalan-jalan, dan jangan tidur cepat. Jangan pula mudah menyerah pada kesulitan.

Selain itu, ia menekankan kejujuran. Orang yang sukses dengan cara curang pasti akan segera gulung tikar. Karena itu, lebih baik untung sedikit, namun diusahakan secara jujur dan ikhlas. Kita bisa tidur lebih nyenyak dan tidak punya beban.

”Memang benar, pengusaha harus banyak akal,” kata Om Liem suatu ketika. ”Tapi, jangan curang. Jangan ambil milik orang lain.”
Di era Orde Baru, bersama-sama bos Sinar Mas Grup Eka Tjipta Widjaya, bos Lippo Group Mochtar Riady, Henry Pribadi, Sudwikatmono, dan Ibrahim Risjad, Om Liem dikenal sebagai taipan yang cukup dekat dengan Presiden Soeharto. Mereka kerap dilibatkan penguasa Orde Baru itu dalam sejumlah kegiatan bisnis dan proyek pembangunan di Tanah Air.

Seiring dengan jatuhnya rezim Soeharto tahun 1998, kebesaran bisnis Om Liem dan Grup Salim yang belakangan pengelolaannya diserahkan kepada Anthony Salim mulai terkikis. Om Liem bahkan terpaksa hijrah ke Singapura tak lama setelah kerusuhan Mei 1998.
Peristiwa tersebut menjadi catatan kelam bagi dia, karena rumahnya yang berada di Jl Gunung Sahari,
Jakarta, diobrak-abrik dan porak-poranda diamuk massa. Sejak saat itu, bos Indofood ini trauma pulang ke Indonesia.
Grup Salim kembali bangkit berkat kerja keras Anthony Salim. Setelah mendapat surat lunas utang tahun 2004 dari pemerintahan Presiden Megawati, Indofood dan perusahaan lainnya makin berjaya dengan merambah pasar internasional.

Harta Om Liem dan keluarganya juga masih jumbo. Omzet bisnisnya diperkirakan tak kurang dari 1 miliar dolar AS setahun. Om Liem juga disebut-sebut masih memiliki kekayaan pribadi tak kurang dari 1,9 miliar dolar AS. (Fauzan Jayadi, Hartono Harimurti-59)

(Photo courtesy of Tempo)
Sumber: SuaraMerdeka

0 komentar:

Posting Komentar